Fokus Ubah Perilaku Lingkungan Siswa

Riaupos-Online_Yanti

Sebagai seorang pendidik sekaligus doktor ilmu lingkungan, Yanti merasa prihatin. Pasalnya, kesadaran siswa untuk peduli terhadap kondisi lingkungan mereka bisa dibilang minim. Ia pun tertarik melakukan penelitian mengenai hal tersebut beberapa tahun lalu.

Disertasinya saat itu berjudul ‘’Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan siswa sekolah menengah atas (SMA) Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar’’.

Ia mencari literatur untuk tulisannya tersebut dari berbagai perpustakaan. Antara lain perpustakan USU, UI dan UNJ, terutama Unri. Untuk memperoleh data, ia bekerja sama dengan MKKS SMA.

‘’Hasilnya, pengetahuan lingkungan siswa, sikap lingkungan dan perilaku lingkungan siswa merupakan faktor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan mereka.

Siswa yang tinggal di kota memiliki kesadaran lingkungan lebih baik dari siswa yang tinggal di desa,’’ paparnya kepada Riau Pos.

Menariknya, kesadaran lingkungan siswa pada sekolah yang memperoleh penghargaan Adiwiyata dan sekolah yang tidak memperoleh penghargaan Adiwiyata tidak mempunyai perbedaan yang signifikan.

Menurut Yanti, strategi yang bisa ditawarkan untuk membenahi permasalahan tersebut ialah strategi peningkatan kesadaran lingkungan siswa.

Untuk pelaksanaanya sendiri bisa melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler dengan pendekatan yang komprehensif antara aspek regulasi, pembelajaran serta monitoring.

Wanita yang kini menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Bangkinang ini juga menerapkan strategi tersebut di sekolah yang ia pimpin saat ini.

‘’Kita selalu berupaya mengubah prilaku lingkungan siswa. Mereka harus sadar bahwa lingkungan memerlukan perlakuan baik dari mereka. Dalam beberapa mata pelajaran, diusahakan untuk mengintegrasikan materi lingkungan hidup,’’ ungkap wanita ramah yang pernah menjadi kepala sekolah berprestasi Provinsi Riau ini.

Seperti yang diutarakannya, unsur lingkungan juga dimuat pada kegiatan ekstrakurikuler, seperti PIK Remaja, Pramuka dan lain sebagainya. Yanti juga membenahi kantin sekolah. Melalui kerja sama dengan pihak Puskesmas, penyuluhan dan pemeriksaan terhadap makanan yang dijual di kantin dilakukan.

Bukan hanya itu, kantin liar yang berada di luar pekarangan sekolah juga menjadi perhatian penerima Kartini Award ini. ‘’Kantin liar yang menjual makanan menggunakan kemasan plastik atau makanan cepat saji, kita bicarakan secara kekeluargaan, agar mereka juga ikut berpartisipasi melaksanakan program sekolah.

Sebagaimana kita ketahui, sampah plastik berdampak buruk bagi sekolah. Terlebih jika dibuang semabarangan dengan jumlah besar,’’ tambahnya.

Ia melihat sejauh ini masih banyak sekolah yang tak menerapkan hal tersebut pada pedagang liar di sekitar sekolah mereka. Untuk itu, ke depan ia berharap agar Pemerintah Kabupaten Kampar dan juga Pemerintah Provinsi Riau untuk menetapkan pendidikan lingkungan hidup sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib di semua jenjang sekolah.

‘’Dengan keberadaan mata pelajaran muatan lokal tersebut, pendidikan mengenai lingkungan tentu bisa lebih fokus. Siswa punya waktu khusus untuk mempelajari ilmu tersebut.

Sehingga mereka bisa lebih cepat memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,’’ lanjutnya. Saat ini, selain gencar mengubah perilaku siswanya, Yanti juga sedang persiapan O2SN dan FLS2N.
Selain itu ia juga tengah bersiap melakukan pelepasan tim PIK Remaja Prima SMAN 1 Bangkinang dalam ajang perlombaan PIK remaja tingkat kabupaten.

Sebagai lulusan ilmu lingkungan, ke depan ia berharap semua lulusan bisa mensinergikan ilmu lingkungan ke berbagai bidang. Seperti dirinya yang selalu berupaya mensinergikan dunia pendidikan dengan ilmu lingkungan.(rnl)

Read more: http://www.riaupos.co/108656-berita-fokus-ubah-perilaku-lingkungan-siswa.html#ixzz464hBtuSf

Translate »